Pembangunan Kilang Mini Habiskan Rp 104 Miliar-JPNN.com

JAKARTA – Lelang pembangunan kilang mini direncanakan dimulai secepatnya Oktober nanti. Pembangunan kilang mini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan dari impor bahan bakar minyak (BBM).

Dirjen Migas Kementerian ESDM Wiratmaja Puja menyatakan, berbagai payung hukum sudah siap. Misalnya, Peraturan Menteri (Permen) ESDM 22/2016 tentang Pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak Skala Kecil di Dalam Negeri yang diterbitkan pada Juli lalu.

’’Lelang mungkin dibuka pada Oktober. Sebelum akhir tahun,’’ ujarnya kemarin (11/9).

Yang masuk kategori kilang mini adalah berkapasitas kurang dari 20 ribu barel per hari. Ada dua jenis mekanisme pembangunan yang disediakan pemerintah. Yakni, sistem cluster dan non-cluster.

Untuk cluster, lokasinya ditentukan pemerintah. Saat ini ada delapan cluster yang sudah dipetakan. ’’Pembiayaan sistem ini bisa melalui pemerintah maupun badan usaha,’’ jelasnya.

Pemerintah bisa menugasi BUMN atau melelang ke badan usaha. Untuk penugasan, Kementerian ESDM akan menunjuk PT Pertamina (Persero) lebih dulu.

Yang jelas, untuk sistem cluster, bakal dicarikan lokasi yang mudah diakses dari kegiatan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di sekitarnya.

Tujuannya, memudahkan pengiriman pasokan minyak dari kegiatan produksi. ’’Saat ini banyak yang terlalu jauh ke kilangnya. Mending lewat kilang mini,’’ tutur Wirat.

Berdasar data Ditjen Migas, cluster itu terbagi menjadi delapan. Cluster I Sumatera Utara meliputi Rantau dan Pangkalan Susu, cluster II Selat Panjang Malaka (EMP Malacca Strait dan Petroselat), cluster III Riau (Tonga, Siak, Pendalian, Langgak, West Area, dan Kisaran), serta cluster IV Jambi (Palmerah, Mengoepeh, Lemang, dan Karang Agung).

Cluster V Sumatera Selatan (Merangin II dan Ariodamar), cluster VI Kalimantan Selatan (Tanjung), cluster VII Kalimantan Utara (Bunyu, Sembakung, Mamburungan, dan Pamusian Juwata), terakhir cluster VIII Maluku (Oseil dan Bula).

Untuk sistem non-cluster, pemerintah membebaskan lokasi pembangunan kilang mini. Pemerintah tinggal melelang kebutuhan kilang mini. Lewat sistem tersebut, pembiayaan pembangunan kilang mini diserahkan sepenuhnya kepada badan usaha atau korporasi.

Dia berharap investornya berasal dari dalam negeri karena tidak butuh banyak biaya. ’’Alokasi minyak bisa dari KKKS maupun impor,’’ terangnya.

Untuk pemasaran, diharapkan bisa terjalin kerja sama dengan Pertamina. Sebab, BUMN energi itu nanti dapat menjadi offtaker dan mendistribusikan kepada masyarakat secara langsung.

Melalui kilang mini, kapal tanker tidak perlu jauh-jauh membawa kilang besar. Biaya tanker pun bisa ditekan sampsel, keputusan yang cukup sulit diambil oleh pihaknya.  “Bagi kami, baik Sriwijaya FC atau tim PON Sumsel sama pentingnya dan merupakan milik masyarakat Sumsel. Namun semua ada konsekuensinya, tim PON Sumsel sangat membutuhkan tenaga ketiga pemain ini untuk berjuang meraih medali emas," kata Nasrun.

"Hal ini pun sudah sejak lama kita beritahukan ke tim pelatih dan pemain. Apapun resikonya harus kita ambil. Saya pun harus memikirkan keduanya, doakan saja agar semuanya dapat berjalan dengan baik,” ujar pria yang juga menjabat sebagai ketua Harian KONI Sumsel itu. (cj11/ion/ray/jpnn)


Pembangunan Kilang Mini Habiskan Rp 104 Miliar-JPNN.com
Read More

0 Response to "Pembangunan Kilang Mini Habiskan Rp 104 Miliar-JPNN.com"

Posting Komentar